Monday, May 20, 2019

Biodata

Nama : M. Taufiq

Alamat : Dk. Guntur Tengah RT.  03 RW. 04 Ds. Karangdadap Kec. Karangdadap Kab. Pekalongan Jawa Tengah.

TTL : Pekalongan, 27 Januari 1998
Jenis kelamin : laki-laki
Gol. Darah : A

Profesi : Mahasiswa
Pernah Belajar di :
1. RAM NU Karangdadap
2. MI Salafiyah Karangdadap
3. SMP NU Karangdadap
4. MASS Proto Kedungwuni
5. IAIN Pekalongan

Sunday, May 19, 2019

Fiqih kelas 7 semester genap Bab 4

Sholat Sunnah Rawatib “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Israa’ : 78) Demikianlah Allah swt telah menjadikan ibadah sholat sebagai satu amalan wajib bagi seluruh umat Islam. Ayat di atas merupakan perintah untuk melaksanakan sholat fardhu yang lima waktu, yaitu sholat Isya, Shubuh, Dhuhur, ‘Ashar, dan Maghrib. Kelima sholat tersebut merupakan rangkaian sholat wajib yang harus dilakukan oleh setiap umat Islam yang beriman kepada Allah swt. Selain harus melaksanakan sholat fardhu lima waktu yang wajib tersebut, umat Islam juga diperintahkan untuk melaksanakan berbagai macam sholat sunnah, yang berfungsi untuk menyempurnakan amalan sholat-sholat fardhu. Salah satu sholat sunnah yang diperintahkan adalah sholat sunnah rawatib, sebagaimana banyak terdapat pada hadits-hadits Rasulullah saw. Sholat sunnah rawatib merupakan salah satu jenis sholat sunnah yang dikerjakan ketika sebelum atau sesudah melaksanakan sholat-sholat wajib atau sholat fardhu. Sholat sunnah rawatib yang dilaksanakan sebelum sholat fardhu disebut dengan sholat sunnah Qobliyah, sedangkan sholat rawatib yang dikerjakan sesudah mengerjakan sholat fardhu disebut dengan sholat sunnah Ba’diyah. Sedangkan mengenai kesunahannya, sholat sunnah rawatib ada yang hukumnya sunnah muakkad, ada pula yang sunnah ghoiru muakkad. Sholat sunnah rawatib dikerjakan sebanyak dua rakaat atau ada juga yang dilakukan sebanyak empat rakaat. Berikut kami sajikan pembahasan sederhana mengenai sholat sunnah rawatib. MACAM-MACAM SHOLAT SUNNAH RAWATIB 1. Sholat sunat rawatib muakkad Yaitu sholat rawatib yang sangat diutamakan (yang tingkat kesunahannya lebih tinggi, karena Rasulullah saw dahulu sering melakukannya). Sholat sunnah rawatib muakkad ini diantaranya adalah sholat sunnah yang dilakukan pada waktu: a) Sebelum shubuh dua rokaat b) Sebelum dhuhur dua rokaat c) Sesudah dhuhur dua rokaat d) Sesudah maghrib dua rokaat e) Sesudah isya dua rokaat “Dari Aisyah ra, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: Dua rakaat fajar (qabliyah subuh) itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim) Dari Ibnu Umar ra berkata, “Aku menjaga 10 rakaat dari nabi saw: 2 rakaat sebelum sholat Dhuhur,2 rakaat sesudahnya,2 rakaat sesudah sholat Maghrib, 2 rakaat sesudah sholat Isya dan 2 rakaat sebelum sholat Shubuh. (HR. Muttafaqun ‘alaih) 2. Sholat sunat rawatib ghoiru muakkad Yaitu sholat sunnah rawatib yang tidak terlalu diutamakan. a) Dua atau empat rakaat sebelum sholat Ashar Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah SWT mengasihi seseorang yang sholat 4 rakaat sebelum sholat Ashar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirimizi dan Ibnu Khuzaemah). b) Dua rakaat sebelum sholat Maghrib Dari Abdullah bin Mughaffal ra. ia berkata: Nabi saw bersabda, “Di antara adzan dan iqomah ada sholat, di antara adzan dan iqomah ada sholat (kemudian dikali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau.” Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai keharusan. (HR Bukhari No. 627 dan Muslim No. 838) Dan dalam riwayat Abu Daud, “Sholatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat.” Kemudian beliau bersabda, “Sholatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat bagi yang mau.” Beliau takut prang-orang akan menjadikannya sholat sunnah. (HR Abu Daud No. 1281) c) Dua rakaat sebelum sholat Isya Ibnu Umar ra. berkata : Saya sholat bersama Rasulullah saw dua rakaat sebelum dhuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah jum’ah dan dua rakaat sesudah maghrib serta dua rakaat sesudah isya. (HR. Bukhari, Muslim) Sholat Sunnah Rawatib Ba’diyah (Sesudah ‘Ashar) Tidak seluruh sholat fardhu yang lima waktu dapat atau boleh diikuti dengan sholat sunnah rawatib (ba’diyah). Sholat shubuh dan sholat ‘ashar merupakan sholat fardhu yang tidak boleh diikuti dengan sholat sunnah rawatib ba’diyah, karena Rasulullah saw telah melarang umatnya untuk mengerjakan sholat sunnah ba’diyah shubuh maupun ba’diyah ‘ashar. Rasulullah saw bersabda: Dari Abi Said Al-Khudri ra. berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,“Tidak ada sholat setelah sholat shubuh hingga matahari terbit. Dan tidak ada sholat sesudah sholat ‘Ashar hingga matahari terbenam. (HR Bukhari dan Muslim). Dengan demikian jelas bahwa haram hukumnya mengerjakan sholat sunnah ba’diyah shubuh maupun ba’diyah ‘ashar. Keutamaan Sholat Sunnah Rawatib Allah swt akan memberikan ganjaran yang sangat besar kepada hamba-Nya yang senantiasa menjadikan sholat sunnah rawatib sebagai amalan yang kontinyu. Ganjaran Allah swt kepada orang-orang yang mendawamkan sholat sunnah rawatib yaitu Allah swt akan membangunkannya rumah di Surga. Shalat Sunnah Ghairu Muakkad Shalat sunnah ghairu muakkad adalah shalat yang biasa didirikan nabi Muhammad SAW,tetapi beliau tidak menganjurkan sebagaimana pada sunnah muakkad. Sunnah ini mencakup : · Dua rakaat setelah dhuhur disamping dua rakaat yang muakkad. Nabi SAW pernah bersabda : “ siapa yang shalat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat setelahnya, Allah mengharamkan ia jatuh ke neraka “ (HR. Abu Daud). Tampaknya engkau segera merespon hadist tersebut :” Sesungguhnya amal tergantung pada niat” (HR. Bukhori, Muslim dan Ibnu Majah). · Empat rakaat atau dua rakaat sebelum ashar. Nabi SAW bersabda, “ Semoga Allah memberi rahmad kepada orang yang shalat sunnah empat rakaat sebelum ashar” ( HR. Tirmidzi ) dan sayyidina Ali meriwayatkan bahwa nabi SAW biasa shalat dua rakaat sebelum ashar.( HR. Abu Daud ). · Dua rakkat sebelum maghrib. Rasulullah SAW bersabda :” shalatlah dua rakaat sebelum maghrib” kemudian beliau mengulang “shalatlah dua rakaat sebelum maghrib “ kemudian pada yang ketiga kalinya beliau menambahkan “ bagi yang mau “. ( HR. Bukhari ). · Dua rakaat sebelum isya’. Nabi SAW bersabda “ diantara dua adzan ada shalat, diantara dua adzan ada shalat”, beliau kemudian menyatakan “ bagi yang mau. “( HR. HR. Bukhori ). Nabi Muhammad SAW tidak menganjurkan shalat ini sekuat shalat muakkad. Kadang beliau melaksanakannya dan kadang beliau meninggalkannya.

Fiqih kelas 7 semester genap Bab 3

Shalat Dalam Keadaan Darurat image Ibadah shalat merupakan ibadah yang tidak dapat ditinggalkan walau dalam keadaan apapun. Hal ini berbeda dengan ibadah-ibadah yang lain seperti puasa, zakat dan haji. Jika seseorang sedang sakit pada bulan ramadhan dan tidak mampu untuk berpuasa, maka ia boleh tidak berpuasa dan harus menggantinya pada hari lain. Orang yang tidak mampu membayar zakat ia tidak wajib membayar zakat. Demikian pula halnya dengan ibadah haji, bila seseorang tidak mampu maka tidak ada kewjiban baginya. Shalat adalah ibadah yang wajib dilaksanakan bagi setiap muslim selama masih memiliki akal dan ingatannya masih normal. Kewajiban tersebut harus dilakukan tepat pada waktunya. Halangan untuk tidak mengerjakan shalat hanya ada tiga macam, yaitu hilang akal seperti gila atau tidak sadar, karena tidur dan lupa (namun demikian ada kewajiban mengqadha di waktu lain). Betapa pentingnya ibadah shalat ini, Rasulullah pernah bersabda : “Urusan yang memisahkan antara kita (orang-orang Islam) dengan mereka (orang-orang kafir) adalah shalat. Oleh sebab itu siapa yang meninggalkan shalat, sungguh ia telah menjadi kafir.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Shalat Dalam Keadaan Sakit Orang yang sedang sakit harus tetap melakukan shalat lima waktu, selama akal atau ingatannya masih tetap normal. Cara melaksanakannya sesuai dengan kemampuan orang yang sakit tersebut. Jika ia tidak mampu shalat dengan berdiri, maka ia boleh shalat dengan duduk. Jika ia tidak mampu dengan duduk, boleh shalat dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika ia tidak mampu berbaring boleh shalat dengan terlentang dan isyarat. Yang termasuk dalam arti tidak mampu adalah apabila ia mendapatkan kesulitan dalam berdiri atau duduk, atau sakitnya akan bertambah apabila ia berdiri atau ia takut bahaya. Hal ini dijelaskan dalam hadits sebagai berikut : Dari Ali bin Abu Thalib ra. telah berkata Rasulullah SAW tentang shalat orang sakit : “Jika kuasa seseorang shalatlah dengan berdiri, jika tidak kuasa shalatlah sambil duduk. Jika ia tidak mampu sujud maka isyarat saja dengan kepalanya, tetapi hendaklah sujud lebih rendah daripada ruku;nya. Jika ia tidak kuasa shalat sambil duduk, shalatlah ia dengan berbaring ke sebelah kanan menghadap kiblat. Jika tidak kuasa juga maka shalatlah dengan terlentang, kedua kakinya ke arah kiblat.” (HR. Ad-Daruquthni). Shalat dalam Kendaraan Orang yang sedang berada dalam kendaraan mengalami situasi yang berbeda. Ada yang di dalam kendaraan itu bisa tenang seperti dalam kapal laut yang besar, adakalanya sesorang tidak merasa nyaman seperti berada di dalam bis yang sempit. Untuk melakukan shalat di kendaraan ini tentunya di sesuaikan dengan jenis kendaraan yang ditumpanginya. Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bagaimana cara sholat di atas perahu. Beliau bersabda : “Sholatlah di dalam perahu itu dengan berdiri kecuali kalau kamu takut tenggelam.” (HR. Ad-Daruquthni). Bila selama perjalanan (dengan kendaraan) itu masih dapat turun dari kendaraan, maka hendaknya kita melaksanakan sholat seperti dalam keadaan normal. Tetapi bila memang tidak ada kesempatan lagi untuk turun dari kendaraan seperti bila naik pesawat terbang, maka kita melakukan shalat di atas kendaraan itu. Hal ini dilakukan mengingat : 1. Shalat adalah ibadah yang wajib dikerjakan pada waktu yang telah ditentukan baik secara normal atau dengan menjama‘. Sedangkan meninggalkan sholat walau dalam safar lalu mengerjakan bukan pada waktunya tidak didapati dalil/contoh dari Rasullullah. 2. Kendaraan di masa Nabi SAW adalah berupa hewan tunggangan (unta, kuda dan lain-lain) yang dapat dengan mudah kita turun dan melakukan shalat. Bila dalam shalat wajib Nabi SAW tidak shalat di atas kendaraannya, maka hal itu karena Nabi melakukan shalat wajib wajib secara berjamaah yang membutuhkan shaf dalam shalat. Atau pun juga beliau ingin shalat wajib itu dilakukan dengan sempurna. 3. Sedangkan kendaraan di masa kini bukan berbentuk hewan tunggangan, tetapi bisa berbentuk kapal laut, kapal terbang, bus atau kereta api. Jenis kendaraan ini ibarat rumah yang berjalan karena besar dan sesorang bisa melakukan shalat dengan sempurna termasuk berdiri, duduk, sujud dan sebagainya. Dan meski tidak bisa dilakukan dengan sempurna, para ulama membolehkan shalat sambil duduk dan berisyarat. Selain itu kendaraan ini tidak bisa diberhentikan sembarang waktu karena merupakan angkutan massal yang telah memiliki jadwal tersendiri. 4. Tetapi bila kita naik mobil pribadi atau sepeda motor, maka sebaiknya berhenti, turun dan melakukan shalat wajib di suatu tempat agar bisa melakukannya dengan sempurna. 5. Sedangkan riwayat yang mengatakan bahwa Nabi tidak pernah shalat wajib di atas kendaraan juga diimbangi dengan riwayat yang menceritakan bahwa Nabi SAW berperang sambil shalat di atas kuda/ kendaraan. Tentunya ini bukan salat sunnah tetapi shalat wajib karena shalat wajib waktunya telah ditetapkan.

Fiqih kelas 7 semester genap Bab 2

Shalat Jama’ dan Qashar Adalah suatu keringanan (rukhshoh) dari Allah bagi para musafir (orang yang dalam perjalanan) yaitu mereka dapat melaksanakan shalat jama’ dan qashar. 1. Shalat Jama’ a. Pengertian Shalat Jama’ dan Dasar Hukumnya Sholat Jama’ artinya menggabungkan 2 salat fardhu yang dikerjakan dalam satu waktu. Hal ini pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya: … ثُُمَّ نَزَلَ بِجَمْعٍ بَيْنَهُمَا …. “… kemudian Beliau turun, lalu menjama’ kedua salat tersebut….” (H.R. Bukhari dan Muslim). b. Macam-macam shalat Jama’ Shalat yang bias dijama’ adalah Salat Zhuhur dengan Ashar, dan salat Maghrib dengan Isya. Adapun shalat jama’ dibagi kedalam 2 macam, yaitu: · Jama’ taqdim, yaitu melaksanakan 2 salat fardhu dalam 1 waktu dan dilakukan pada waktu salat pertama. Contoh: Salat Zhuhur dan Ashar dijama’, dan dikerjakan pada waktu Zhuhur. · Jama’ takhir, yaitu salat jama’ yang dilakukan pada waktu salat yang kedua. Contoh: Salat Maghrib dan Isya dijama’, dan dikerjakan pada waktu Isya · c. Kaifiyyat/tatacara Shalat Jama’ Mendirikan salat yang pertama terlebih dahulu (misalnya: Zhuhur/Maghrib) sebanyak 4 atau 3 raka’at, kemudian melaksanakan salat yang kedua (Ashar/Isya) sebanyak 4 raka’at 2. Shalat Qashar d. Pengertian Shalat Qashar dan Dasar Hukumnya Shalat Qashar adalah memendekkan/meringkas pelaksanaan salat fardhu yang semestinya 4 raka’at menjadi 2 raka’at. Adapun dalil naqlinya, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa mengqasar salatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (QS. An-Nisa: 101) e. Syarat-syaratnya: · Musafir (tetapi bukan perjalanan untuk berbuat maksiat. · Jarak yang akan ditempuh ± 90 km. · Berniat mengqasar salat pada saat takbiratul ihram · Tidak berimam kepada orang yang salat dengan sempurna · Dilakukan sesudah melewati batas kota/desa asal f. Kaifiyyat/tata cara shalat Qashar Dilakukan dengan cara salat Zhuhur, Ashar, atau Isya diringkas/dikerjakan sebanyak 2 raka’at. Sedangkan salat Maghrib tidak bisa diqasar, jadi tetap 3 raka’at. Sedangkan yang dimaksud dengan shalat Jama’ Qashar adalah menggabungkan (menjama’) 2 salat fardhu dalam satu waktu sekaligus meringkas (mengqasar) raka’atnya yang semula 4 raka’at menjadi 2 raka’at

Fiqih kelas 7 semester genap Bab 1

SHOLAT WAJIB SELAIN SHOLAT 5 WAKTU A. Ketentuan sholat dan khutbah jum’at Pembahasan ketentuan sholat dan khutbah jum’at meliputi pengertian shalat jum’at dan hukumnya, syarat wajib dan sahnya shalat jum’at. 1. Pengertian sholat jum’at dan hukumnya Sholat jum’at adalah sholat wajib dua rokaat yang dilakukan sesudah khutbah pada waktu dzuhur dihari jum’at. Dengan demikian sholat jum’at hanya sekali dalam seminggu. Sholat jum’at hukumnya fardlu a’in bagi setiap muslim laki-laki yang sudah dewasa, berakal, sehat, merdeka, dan tidak sedang musafir. Allah swt berfirman: Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. al-Jum’ah : 9) Sholat jum’at tidak wajib bagi wanita, anak-anak, hamba sahaya, orang sakit, dan musafir (orang-orang yang sedang dalam perjalanan). Rasulullah saw, bersabda yang artinya: Jum’at itu hak yang wajib dikerjakan oleh setiap orang islam dengan berjama’ah, kecuali empat macam orang, yaitu hamba sahaya, perempuan, anak-anak, dan orang sakit.(H.R. Abu Daud dari Thariq ibn Syihab: 1067) 2. Syarat wajib dan sah sholat jum’at Syarat-syarat sholat jum’at meliputi syarat wajib dan syarat sah sholat. Kesua syarat itu harus diketahui dan dipahami oleh seorang muslim. a. Syarat wajib sholat jum’at Sholat jum’at wajib dilakukan apabila memenuhi persyaratan berikut: 1. Islam, selain orang islam tidak wajib sholat jum’at 2. Baligh (dewasa), bagi anak-anak tidak wajib sholat jum’at 3. Sehat akal 4. Laki-laki 5. Sehat badan 6. bermukim b. Syarat sah sholat jum’at Untuk mendirikan sholat jum’at, harus terpenuhi syarat sah sebagai berikut: 1) Dilaksanakan ditempat-tempat yag sudah tetap 2) Dilaksanakan secara berjama’ah, sedangkan jumlah jamaah tidak ditentukan oleh Rasulullah saw. 3) Dilaksanakan pada waktu sholat dzuhur. 4) Sholat jum’at diawali dengan dua khutbah. Dalam sebuah hadist diriwayatkan sebagai berikut: Dari Ibnu Umar berkata,” Rasulullah saw, berkhutbah pada hari jum’at sambil berdiri kemudian duduk kemudian berdiri.(H.R. Muslim:1420). 3. Rukun sholat jum’at Rukun sholat jum’at sama dengan rukun sholat fardlu. Rukun sholat jum’at adalah: a. Khatib (lazimnya sekaligus menjadi imam). b. Jamaah jum’at c. Dua khutbah dan duduk diantara keduanya. d. Sholat sua rakaat dengan berjamaah. 4. Sunnah sholat jum’at Beberapa hal yang disunnahkan bagi orang yang akan melaksanakan sholat jum’at, antara lain: a. Mandi sebelum berangkat ke masjid b. Memakai pakaian yang paling bagus (jika ada) c. Memakai minyak wangi. 6. Ketentuan khutbah jum’at Pembahasan ketentuan khutbah jum’at meliputi pengertian khutbah jum’at, syarat dan rukun khutbah jum’at, juga adab ketika khutbah sedang berlangsung, beberapa hal yang membatalkan sholat jum’at dan pahala sholat jum’at. a. Pengertian khutbah jum’at Khutbah jum’at adalah pidato tentang ajaran agama Islam sebagai rangkaian sholat jum’at. Khutbah jum’at dilaksanakan sebelum sholat jum’at. b. Syarat dan rukun khutbah jum’at Khutbah jum’at dilakukan sebelum sholat dikerjakan. Khutbah jum’at baru dianggap sah apabila syarat dan rukunnya terpenuhi. a) Syarat khutbah jum’at. Syarat khutbah jum’at antara lain: 1) Khatib harus suci dari hadast dan najis 2) menutup aurat 3) khutbah dimulai setelah masuk waktu sholat dhuhur 4) khutbah dilakukan dengan berdiri (jika mampu) 5) khatib duduk sejenak antara dua khutbah 6) suara khatib terdengar oleh jama’ah b) Rukun khutbah jum’at Rukun khutbah jum’at yang harus dipenuhi bagi seorang khatib adalah sebagai berikut: 1. Hamdalah, yakni ucapan “Alhamdulillah” , berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir r.a.: “Sesungguhnya Nabi SAW. berkhutbah pada hari Jum’at, maka (beliau) memuji Allah (dengan mengucap Alhamdulillah) dan menyanjung-Nya”. (HR. Imam Muslim). 2. Syahadat (Tasyahud), yaitu membaca “Asyhadu anla ilaaha illallah wahdahu laa syarikalahu wa Asyhadu anna Muhammadan abduhu warasuluhu”, berdasarkan hadits Nabi SAW: “Tia-tiap khutbah yang tidak ada syahadatnya adalah seperti tangan yang terpotong”. (HR. Ahmad dan Abu Dauwd). 3. Shalawat 4. Wasiyat Taqwa, antara lain ucapan “Ittaqullah haqqa tuqaati 5. Membaca ayat Al-Qur’an, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir bin Samurah r.a.: “Adalah Rasulullah SAW. berkhutbah (dalam keadaan) berdiri dan duduk antara dua khutbah, membaca ayat-ayat Al-Qur’an serta memberikan peringatan kepada manusia”. (HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Tirmidzi). 6. Berdo’a Semua rukun khutbah diucapkan dalam bahasa Arab. Empat rukun yang pertama (Hamdalah, Syahadat, Shalawat dan wasiyat) diucapkan pada khutbah yang pertama dan kedua, sedangkan ayat Al-Qur’an boleh dibaca pada salah satu khutbah (pertama atau kedua) dan do’a pada khutbah yang kedua. c) Adab ketika khutbah sedang berlangsung 1. Jama’ah tenang mendengarkan khutbah dan menghadap kiblat 2. Jama’ah tidak berbicara ketika khutbah sedang berlangsung. 3. Jama’ah berdo’a atau membaca istigfar saat khatib duduk diantara dua khutbah. d) Beberapa hal yang membatalkan sholat jum’at dan pahala sholat jum’at Yang membatalkan sholat jum’at ialah semua yang membatalkan sholat fardhu. Yang membatalkan pahala sholat jum’at (saat khuybah berlangsung) adalah: 1. Bercakap-cakap dengan sesama jama’ah. 2. Mengingat atau menegur jama’ah lain yang bercakap-cakap saat khutbah berlangsung. e) Sunnah-sunnah khutbah jum’at 1. Berdiri di tempat yang tinggi (mimbar) 2. Memberi salam, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir ra.: “Sesungguhnya Nabi SAW. apabila telah naik mimbar, (beliau) memberi salam”. (HR. Ibnu Majah). 3. Menghadap Jama’ah, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Adi bin Tsabit dari ayahnya dari kakeknya: “Adalah Nabi SAW. apabila telah berdiri di atas mimbar, shahabat-shahabatnya menghadapkan wajah mereka ke arahnya”. (HR. Ibnu Majah). 4. Suara jelas penuh semangat, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Jabir r.a: “Adalah Rasulullah SAW. apabila berkhutbah kedua matanya menjadi merah, suaranya lantang/tinggi, berapi-api bagaikan seorang panglima (yang memberi komando kepada tentaranya) dengan kata-kata “Siap siagalah di waktu pagi dan petang”. (HR. Muslim dan Ibnu Majah). 5. Singkat, padat, akurat dan memikat, Rasulullah SAW. bersabda : “Adalah Rasulullah SAW. biasa memanjangkan shalat dan memendekkan khutbahnya”. (HR. Nasai dari Abdullah bin Abi Auf). 6. Gerakan tangan tidak terlalu bebas, berdasarkan hadits Nabi SAW. dari Abdurrahman bin’ Sa’ad bin ‘Ammar bin Sa’ad ia berkata: “Adalah Nabi SAW. apabila berkhutbah dalam suatu peperangan beliau berkhutbah atas anak panah, dan bila berkhutbah di hari Jum’at belaiu berpegangan pada tongkat”. (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi). 7. Seusai khutbah kedua segera turun dari mimbar, berdasarkan hadits Nabi SAW. “Adalah shahabat Bilal itu menyerukan adzan apabila Nabi SAW. telah duduk di atas mimbar, dan ia iqomah apabila Nabi SAW. telah turun”. (HR. Imam Ahmad dan Nasai). 8. Tertib dalam membacakan rukun-rukun khutbah, yaitu: Hamdalah, Syahadat, Shalawat, wasiyat, Ayat Al-Qur’an dan Do’a. f) Hal-hal yang dimakruhkan dalam khutbah 1. Membelakangi Jama’ah 2. Terlalu banyak bergerak 3. Meludah g) Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh khatib: 1. Melakukan persiapan, mental, fisik dan naskah khutbah 2. Memilih materi yang tepat dan up to date 3. Melakukan latihan seperlunya 4. Menguasai materi khutbah 5. Menjiwai isi khutbah 6. Bahasa yang mudah difahami 7. Suara jelas, tegas dan lugas 8. Pakaian sopan, memadai dan Islami 9. Waktu maksimal 15 menit 10. Bersedia menjadi Imam shalat Jum’at h) Materi khutbah 1. Tegakkan akidah, murnikan ibadah, perluas ukhuwwah 2. Evaluasi amaliah (ummat) mingguan 3. Kaji masalah secara cermat dan singkat 4. Berikan solusi yang tepat 5. Tema-tema lokal peristiwa keseharian lebih diutamakan 6. Hindari materi yang menjenuhkan atau persoalan tanpa pemecahan B. Ketentuan sholat jenazah Dalam ketentuan hukum Islam , seorang muslim yang meninggal dunia maka hukum fardlu kifayah atas orang-orang muslim yang masih hidup untuk menyelengarakan empat perkara. Salah satu diantaranya ialah menyalatkan jenazah. Bagaimana ketentuan adalah sebagai berikut: 1. Pengertian dan hukum sholat jenazah Sholat jenazah adalah sholat yang dilakukan karena meninggalnya seorang muslim atau muslimah. Sholat jenazah dilakukan sebanyak 1 raka’at tanpa ruku’ dan sujud. Jumhur ulama’ sepakat bahwa hukum sholat jenazah ialah fardlu kifayah. Maksudnya yaitu apabila sudah ada sekelompok muslim atau muslimah yang menyalatkan maka orang-orang yang lain gugur dalam kewajibannya menyolatkan jenazah. Artinya bebas dari menyolati dan hukumnya tidak berdosa. 2. Syarat dan rukun sholat jenazah a. Syarat sholat jenazah Syarat sholat jenazah adalah hal-hal yangharus dipenuhi dalam melaksanakan sholat jenazah. Adapun syarat-syaratnya antara lain: 1. Suci badan dan pakaian, tempat dari hadast dan najis. 2. Menutup aurat dan menghadap kiblat 3. Dilakukan ketika jenazah sudah dimandikan dan dikafani 4. Jenazah diletakkan didepan orang yang shalat kecuali shalat gaib b. Rukun sholat jenazah Adapun rukun-rukun sho;at jenazah antara lain: 1. Niat, berdiri, takbir 4 kali. 2. Membaca fatihah 3. Dan shalawat pada nabi 4. Baca doa pada mayit 5. Salam 3. Sholat ghaib Sholat ghaib adalah sholat jenazah yang jenazahnya tidak ada bersama orang yang mensholatkan. Mungkin jenazahnya ada ditempat lain atau telah dikubur. C. Bacaan-bacaan sholat jenazah 1. Takbir pertama: fatihah 2. Takbir kedua: membaca shalawat 3. Takbir ketiga: doa kepada mayit 4. Takbir ke empat: salam

Thursday, May 16, 2019

pencak silat

Profil

Nama : M. Taufiq

Alamat : Dk. Guntur Tengah RT.  03 RW. 04 Ds. Karangdadap Kec. Karangdadap Kab. Pekalongan Jawa Tengah.

TTL : Pekalongan, 27 Januari 1998
Jenis kelamin : laki-laki
Gol. Darah : A

Profesi : Mahasiswa
Pernah Belajar di :
1. RAM NU Karangdadap
2. MI Salafiyah Karangdadap
3. SMP NU Karangdadap
4. MASS Proto Kedungwuni
5. IAIN Pekalongan


Wednesday, May 8, 2019

Fiqih kelas VII semester ganjil

  1. Pengertian dzikir
Kata dzikir berasal dari bahasa Arab ذكر-يذكر- ذكرا yang berarti mengingat, menyebut, menuturkan, atau merenungi. Dzikir dalam istilah agama Islam berarti mengingat Allah (dengan cara menyebut sifat-sifat keagungan-Nya atau kemuliaan-Nya, seperti membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Menyebut-nyebut asma Allah SWT, yakni berdzikir merupakan salah satu perbuatan mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur, dan doa kepada Allah SWT perbuatan tersebut sangat dianjurkan dalam agama Islam, sebagaimana diterangkan dalam surat Al Baqarah ayat 152 berikut: 
Artinya:
karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu , dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (Q.S. Al Baqarah: 152).
Al Quran menganjurkan umat manusia supaya memperbanyak dzikir, sebagaimana dijelaskan dalam shalat Al Ahzab ayat 41 berikut:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (Q.S. Al Ahzab: 41)
Mengucapkan dzikir pada dasarnya tidak dibatasi jumlah bilangannya. Demikian pula mengenai lafal, waktu, cara, dan tempat melaksanakannya. Akan tetapi, dzikir seyogyanya dilakukan di tempat yang suci dilandasi dengan niat ikhlas, di samping sikap khusyuk dan tawaduk. Allah SWT berfirman:
Artinya:
dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai. (Q.S. Al A’raf/7: 205).
Firman Allah SWT di atas memuat tata cara (adab) berdzikir, antara lain sebagai berikut:
  1. Dzikir hendaknya dilakukan dengan sikap tadaruk (merasa dirinya hina dihadapan Allah SWT). Dengan demikian, orang yang berdzikir harus menampakkan sikap tawaduk kepada-Nya.
  2. Dzikir dilakukan dengan rasa takut kepada Allah SWT. Takut kepada keagungan dan kemuliaan-Nya sebagai Rabb (Tuhan) manusia.
  3. Dzikir dilakukan dengan berbisik-bisik saja, tidak mengeraskan suara, baik pada waktu siang maupun malam.
  4. Pengertian Doa
Secara bahasa, kata doa berasal dari bahasa Arab دعا- يدعو- دعاء yang berarti panggilan atau seruan. Menurut istilah, doa berarti permohonan sesuatu kepada Allah SWT yang disampaikan umat manusia sebagai makhluk-Nya,baik untuk kepentingan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.
Islam memberi tuntunan kepada umatnya agar gemar berdoa atau memohon sesuatu kepada Allah SWT di samping berusaha sesuai kemampuannya. Usaha dan doa hendaknya dilakukan secara berimbang.
Dalil tentang perintah berdoa, antara lain tercantum dalam surat Al Mukmin ayat 50 dan surat Al Baqarah ayat 186.
Artinya:                                                                                         
dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu… (Q.S. Al-Mu’min/40: 60)
Artinya:                                                                                                 
dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Q.S. Al Baqarah: 186).
Dari firman Allah SWT di atas, diperoleh pelajaran sebagai berikut:
  1. Allah SWT akan mengabulkan permohonan manusia yang memohon kepada-Nya. Oleh sebab itu, hendaknya manusia mau memohon kepada-Nya.
  2. Agar hidup manusia berada di atas jalan yang benar dan memperoleh ridha dari Allah SWT, manusia harus beriman dan memenuhi perintah-Nya.

  1. Tata Cara Dzikir
Berdzikir dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:
  1. Dzikir dengan hati
Dzikir dengan hati ialah dengan memusatkan pikiran dan hati kepada Allah SWT karena memperhatikan kebesaran dan kekuasaan ciptaan Allah. Dengan dzikir seperti ini akan dapat menambah keimanan seorang kepada Allah SWT.
  1. Dzikir dengan ucapan (lisan)
Dzikir dengan lisan ialah dengan cara menyebut nama Allah atau mengucapkan kalimat thayibah. Sehingga dengan cara ini akan dapat menambah keimanan kepada Allah SWT.
Ucapan yang mengandung lafadz asma Allah itu misalnya sebagai berikut:
  • Ucapan Basmalah                                                بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ    
(dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).
  • Ucapan Tahmid
(segala puji bagi Allah) اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
  • Ucapan Takbir
(Allah Maha Besar) اَللهُ اَكْبَر
  • Ucapan Tahlil
(Tiada Tuhan selain Allah) لَااِلَهَ اِلَّا الله
  • Ucapan Istighfar اَشْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْم
(aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung)
  • Ucapan Tasbih
(Maha suci Allah) سُبْحَانَ الله                                            
  • Ucapan Hauqalah لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّتَ اِلَّا بِالله
(tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah)
  • Ucapan Ta’awud اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
(aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk)
  1. Dzikir dengan perbuatan
Dzikir dengan perbuatan ialah dzikir yang dilakukan dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan Allah SWT dan menjahui segala larangan-Nya dengan penuh ikhlas untuk mendapatka ridha Allah SWT. Contoh dzikir dengan perbuatan ialah shalat, menuntut ilmu, menolong orang lain, silaturrahmi, dan amalan-amalan yang diperintahkan agama.
  1. Tata Cara Berdoa
Jika kita berdoa hendaklah memperhatikan tata cara sebagai berikut:
  1. Mengucapkan istighfar 3 kali.
  2. Mengucap puji-pujian kepada Allah kemudian shalawat kepada Nabi SAW.
  3. Memohon dengan khusuk dan tawaduk serta yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.
  4. Berdoa dengan suara yang lembut dan penuh harap.
  5. Menghadap ke arah kiblat.
  6. Mengulangi doanya sampai 3 kali.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ عَبْدِاللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ, اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُحِبُّهُ اَنْ يَدْعُوَ ثَلَاثًا (رواه ابوداود)
Artinya:                                                                                                       
“Dari Abdillah bin Mas’ud bahwa Rasulullah SAW sering sekali berdoa tiga kali.” (H.R. Abu Dawud)
  1. Dalam keadaan suci atau berwudhu.
  2. Mengangkat kedua telapak tangan pada waktu berdoa dan mengusapkannya pada wajah setelah selesai berdoa.
Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah SAW bersabda:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِى الدُّعَاءِ لَمْ يُحَطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ
Artinya:
“Rasulullah SAW apabila mengangkat kedua tangannya ketika berdoa dan belum menurunkannya hingga beliau mengusapkan kedua tangan itu kewajahnya”.
  1. Mengakhiri doa dengan membaca shalawat dan hamdalah.
  2. Memperhatikan waktu-waktu yang maqbul.

Adapun waktu yang maqbul atau utama adalah:
  • Tengah malam atau dipertiga malam. 3) Antara adzan dan iqamah.
  • Sesudah shalat. 4) Di saat puasa.
  • Pada hari jum’at.
Adapun sebab-sebab tidak atau belum terkabulnya doa, antara lain sebagai berikut:
  • Mungkin ditunda untuk lain waktu
Dalam sebuah hadits, diriwayatkan sebagai berikut:
مَامِنْ مُسْلِمٍ يَنْسِبُ وَجْهَهُ لِلَّهِ عَزَّوَجَلَّ فِى مَسْأَلَةٍ اِلاَّ اعْطَاهَااِياَّهُ اِمَّا اَنْ يُعَجِّلَهَا لَهُ يُعَجِّلَهَا لَهُ وَاِمَّااَنْ يَدَّخِّرَهَالَهُ (رواه احمد و الحاكم)                         
Artinya:
Tidaklah seorang muslim yang menengadahkan wajahnya (memohon) kepada Allah tentang sesuatu, kecuali Allah pasti mengabulkannya. Kadang-kadang dipercepat dan kadang-kadang diperlambat atau ditunda. (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah: 9409 dan Al-Hakim).
  • Mungkin ditangguhkan di akhirat atau dikabulkan dalam bentuk yang lain.
  • Mungkin tidak baik (jika dikabulkan) bagi pemohon itu sendiri.
  1. Bacaan Dzikir Setelah Shalat
Dzikir kepada Allah SWT tidak cukup dilakukan dengan hati, tetapi dengan bentuk ucapan lisan sekedar dapat didengar sendiri. Bentuk ucapan lisan dapat menambah kekhusukan dzikir. Bagaimana bacaan dzikir dan doa setelah shalat? ikuti uraian berikut ini.
Bacaan dzikir dan doa sesudah shalat adalah sebagai berikut:
  1. Mengucapkan lafal istighfar sebanyak tiga kali

اَشْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ
Artinya: aku mohon ampun kepada Allah yang maha agung.
Lafal istighfar boleh disempurnakan menjadi:

اَشْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ اَلَّذِى لَا اِلَهَ اِلَّا هُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ              
Artinya:
Aku memohon ampun kepada Allah yang maha agung, yang tiada illah (Tuhan) selain Dia yang Hidup dan Berdiri sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya.
  1. Membaca tahlil tiga kali
Artinya: Tiada Illah (Tuhan) selain Allahلَااِلَهَ اِلَّا الله                    
Lafal diatas dapat disempurnakan menjadi:
لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya:
Tiada tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kekuasaan dan segala puji. (Dia) yang menghidupkan dan mematikan dan dia berkuasa atas segala sesuatu.
  1. Membaca tasbih sebanyak 33 kali
Artinya: Maha Suci Allah. سُبْحَانَ الله  
  1. Membaca hamdalah sebanyak 33 kali
Artinya: Segala puji milik Allah. اَلْحَمْدُ لله
  1. Membaca takbir sebanyak 33 kali
Artinya: Allah Maha Besar اَللهُ اَكْبَر
Adapun keutamaan berdzikir sebagaimana bacaan di atas menurut hadits yang diriwayatkan oleh muslim, dari Abu Hurairah adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلاَثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَكَبَّرَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلاَثِيْنَ فَتِلْكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ وَقَالَ تَمَامُ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيَءٍ قَدِيْرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه مسلم كذافى المشكوة و كذافى مسد أحمد)
artinya:
Dari Abu Hurairah r.a.. katanya, “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca subhanallah 33 kali, alhamdulillah 33 kali, Allahu akbar 33 kali, dan Laa ilaha illallah wahdahu laa syarikalahu lahul-mulku walahul-hamdu wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir, tiap-tiap selesai sholat satu kali, Allah SWT akan mengampuni semua dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”  
  1. Bacaan Doa Setelah Shalat
Adapun lafal doa yang dituntunkan Islam sangat banyak, baik yang dibaca sesudah shalat fardhu maupu pada waktu-waktu lain. Doa sesudah shalat fardhu, antara lain sebagai berikut:
  1. Doa untuk kedua orang tua
رَبِّ اغْفِرْلِ وَلِوَا لِدَيَّ وَرْحَمْهُمَاكَمَا رَبَّيَانِ صَغِيْرَا
Artinya:
Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.
Atau
Artinya:
“… Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Q.S. Al Isra’: 24)
  1. Doa mohon keselamatan di dunia dan akhirat
Artinya:                                                              
“Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”. (Q.S. Al-Baqarah: 201).
  1. Doa tentang Ilmu yang bermanfaat
اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا, وَرِزْقًاوَاسِعًا طَيِّبًا مُتَقَبَّلاً
Artinya:
Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.
Artinya:
“… Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. Thaha/20: 114).
  1. Doa untuk menjadi orang yang pandai bersyukur
Artinya:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Al Ahqaf/46: 15).
  1. Doa agar terhindar dari musibah
لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ الْكَرِيْمُ الْعَظِيْمُ. سُبْحَانَهُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَّقِنَا عَذَابَ النَّارِ                                                                               
Artinya: Tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung Maha Suci Dia, Rabb ‘Arasy yang agung. Segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Ya Allah, Berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat serta hindarkanlah kami dari siksa neraka.


Fiqih Kelas 7 semester ganjil

  1. Pengertian Adzan dan Iqamah
Adzan disebut pula dengan Nida’. Keduanya memiliki arti yang sama yaitu panggilan atau seruan. Secara istilah yang dimaksud adzan ialah memberitahukan waktu shalat telah tiba dan memanggil kaum muslimin untuk shalat berjamaah dengan lafadz yang telah ditentukan oleh syara’. Iqamah ialah membaritahukan kepada hadirin (jamaah) supaya siap berdiri untuk shalat dengan lafadz yang telah ditentukan oleh syara’.
Dalam lafadz adzan dan iqamah terdapat pengertian yang mengandung beberapa maksud penting, yaitu sebagai aqidah, seperti adanya Allah Yang Maha Besar bersifat Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya; menerangkan nabi Muhammad adalah utusan Allah, yang cerdik dan bijaksana untuk menerima wahyu dari Allah. Sesudah kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad utusan-Nya, kita lalu diajak mentaati perintah-Nya, yaitu mengerjakan shalat, kemudian diajak pula untuk meraih kemenangan dunia dan akhirat. Akhirnya disudahi dengan kalimat tauhid. Adzan, selain dimaksudkan untuk memberitahukan bahwa waktu shalat telah tiba dan menyerukan untuk melakukan shalat berjamaah, juga untuk mensyi’arkan agama Islam dimuka umum.
Pada masa Rasulullah SAW, adzan fajar dilakukan dua kali, yaitu adzan pertama sebelum masuk waktu tubuh (sekitar waktu makan sahur) dan adzan yang kedua pada saat masuk waktu subuh.
  1. Hukum Adzan dan Iqamah
Menurut pendapat kebanyakan ulama, adzan dan iqamah hukumnya sunat. Tetapi menurut sebagaian ulama, hukum adzan dan iqamah itu adalah fardhu kifayah, karena menurut mereka, keduanya menjadi syi’ar Islam.
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ اَنَّ النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ اَحَدُ كُمْ وَلْيُئُمَّكُمْ اَكْبَرُ كُمْ (رواه البخارى وسلم)           
Artinya:
Dari Malik bin Huwarits, sesungguhnya Nabi SAW, bersabda: “apabila datang waktu shlat, hendaklah shalah seseorang kamu adzan, dan hendaklah yang tertua di antara kamu menjadi imam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Adzan dan iqamah hanya disunatkan pada shalat fardhu (shalat lima waktu) saja, baik sholat berjamaah maupun shalat sendirian, sabda Rasulullah SAW:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِذَا كُنْتَ فِى غَنَمِكَ اَوْ فِى بَادِ يَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْ فَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَأِ نَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنُّ وَلَا اِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ اِلَّا شَهِدَ لَهُ الْيَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه ابخرى)
Artinya:                                                                                         
“apabila engkau sedang mengurus kambing atau di tengah padang maka adzanlah untuk (menyerukan) shalat dan keraskan suaramu dengan seruan itu, karena sesungguhnya jin, manusia, dan apapun yang mendengar selama suara orang adzan itu, pada hari kiamat nanti akan menjadi saksi baginya.” (H.R. Bukhari).
Adapun untuk shalat-shalat sunnah seperti shalat Idul Fitri atau Idul Adha dan sebagainya tidak disunnatkan adzan dan iqamah. Hanya bagi shalat-shalat tersebut jika dilakukan dengan berjamaah, hendaklah diserukan kata-kata “ashlatu jamlah” (marilah shalat berjamaah).
  1. Lafal Adzan dan Iqamah
  2. Lafal Adzan
Lafal adzanyang diajarkan oleh Nabi SAW adalah:
اَللهُ اَكْبَرُ- اللهُ اَكْبَرُ : 2X
اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ : 2X
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً رَّسُوْلُ اللهُ : 2X
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ : 2X
حَيَّ عَلَى الْفَلَاعِ : 2X
اَللهُ اَكْبَرُ- اَللهُ اَكْبَرُ : 2X
لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ : 2X
  1. Lafal Iqamah
اَللهُ اَكْبَرُ- اَللهُ اَكْبَرُ : 1X
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ : 1X
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً رَّسُوْلُ اللهُ : 1X
حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ : 1X
حَيَّ عَلَى الْفَلاَعِ : 1X
قَدْ قَا مَتِ الصَّلاَةُ : 2X
اَللهُ اَكْبَرُ- اَللهُ اَكْبَرُ : 1X
لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ : 1X
  1. Hal-hal yang disunnatkan dalam Adzan dan Iqamah
  2. Orang yang adzan dan iqamah hendaklah menghadap ke kiblat.
  3. Hendaklah berdiri, karena dengan berdiri itu lebih pantas dalam arti pemberitahuan.
Sabda Rasulullah SAW:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا بِلَابُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ (رواه مسلم)
Artinya:
“hai Bilal, berdirilah, lalu adzanlah untuk shalat.” (H.R. Muslim).
  1. Hendaklah dilakukan di tempat yang tinggi, agar suatu adzan lebuh jauh terdengar.
  2. Muadzin hendaklah orang yang baik dan keras suaranya, agar lebih banyak menarik pendenganr untuk datang ke tempat shalat.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدٍ: اَلْقِهِ عَلَى بِلَالٍ فَأِنَّهُ اَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ (روا أبو داود)
Artinya:
“rasulullah SAW berkata kepada Abdullah bin Zaid: Ajarkanlah adzan kepada Bilal, karena suaranya lebih keras dan lebih baik daripada suaramu.” (H.R. Abu Daud).
  1. Muadzin hendaklah suci dari hadats dan najis.
  2. Membaca sholawat atas Nabi SAW, sesudah selesai adzan, kemudian berdo’a:
اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامً مَحْمُوْدًا الَّذِى وَعَدْتَهُ (رواه البخارى وغيره)                        
Artinya:        
“ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna dan shalat yang didirikan ini, berilah Nabi Muhammad SAW, derajat yang tinggi dan pangkat yang mulia dan berilah dia kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.” (H.R. Bukhari dan lain-lain).
  1. Dusunnatkan berdoa diantara adzan dan iqamah.
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الدُّعَاءُ لاَ يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْأِقَامَةِ (رواه احمد وابو داود والترمذى)
Artinya:
Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW, bersabda: “doa di antara adzan dan iqamah tidak ditolak.” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi).
  1. Ketika adzan dikumandakan hendaklah memperhatikan dan menjawabnya. Demikian pula ketika iqamah dikumandangkan. Caranya ialah menjawab dengan suara pelan seperti kalimat adzan yang diucapkan oleh muadzin. Kecuali sewaktu muadzin mengumandangkan kalimat:
حَيَّ عَلَى الصَّلاَة حَيَّ عَلَى الْفَلَاع
Pendengar hendaklah menjawab dengan ucapan:
لاَحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلاَّ بِااللهِ
Begitu juga ketika iqamah dikumandangkan, pendengar hendaknya turut mengucapkan apa-apa yang diucapkan oleh muadzin, kecuali sewaktu ia mengucapkan:
قَدْ قَا مَتِ الصَّلاَةُ
Pendengar hendaklah mengucapkan:
اَقَا مَهَا اللهُ وَاَدَمَهَا
Sabda Rasulullah SAW:
إِذَا سَمِعْتُهُمْ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلُ يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ (رواه البخرى ومسلم) وَفِى رِوَايَةِ مُسْلِمٍ استِثْنَاءٌ الحَيَّعَلَتَيْنِ فَيَقُوْلُ السَّامِعُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِااللهِ                 
Artinya:                                                          
“ apabila kamu mendengar adzan hendaklah kamu berkata seperti yang dikatakan oleh muadzin” (H.R. Bukhari dan Muslim). Pada riwayat Muslim dikatakan, kecuali sewaktu mendengar “Hayya ‘alash-shalah, hayya’alal-falah”, pendengar hendaklah mengucapkan “la haula wala quwwata illa billah.”
عَنْ شَهِرِبْنِ حُوْشَبٍ اَنَّ بِلَالًا اَخَذَ فِى الْإِقَامَةِ فَلَمَّا اَنْ قَالَ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَقَامَهَا اللهُ وَعَدَامَهَا (رواه أبو داود)
Artinya:
Dari Syhar bin Husyab, sesungguhnya Bilal telah qamat (iqamah), tatkala ia mengucapkan “qad qamatishshalah. Rasulullah SAW, mengucapkan aqamahallahu wa adamaha,” (H.R. Abu Daud).
Pada adzan subuh setelah muadzin mengucapkan:
اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ
Pendengar hendaklah mengucapkan:
صَدَ قْتَ وَبَرَرْتَ وَاَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ
Artinya:                                                                            
“engkau benar dan engkau baik, dan saya termasuk di antara orang-orang yang menjadi saksi yang demikian itu”.

Ketentuan shalat berjamaah yang akan dibahas meliputi pengertian shalat berjamaah, hukum shalat berjamaah, syarat imam dan makmum, dan pengaturan shaf dalam shalat berjamaah.
  1. Pengertian shalat berjamaah
Secara bahasa, kata jamaah berarti kumpulan atau bersama-sama. Menurut istilah, shalat jamaah adalah shalat yang dilakukan secar bersama-sama oleh dua orang atau lebih, salah satunya menjadi imam, sedangkan lainnya menjadi makmum. Dengan demikian, shalat berjamaah sekurang-kurangnya dilakukan oleh dua orang. Firman Allah SWT:
#sŒÎ)ur |MZä. öNÍkŽÏù |MôJs%r’sù ãNßgs9 no4qn=¢Á9$# öNà)tFù=sù ×pxÿͬ!$sÛ Nåk÷]ÏiB y7tè¨B
Artinya:
“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu.” (Q.S. An-Nisaa’: 102).
  1. Hukum dan Keutamaan Shalat Berjamaah
Hukum shalat berjamaah menurut sebagaian ulama adalah fardhu ‘ain, sebagian berpendapat bahwa hukum shalat berjamaah fardhu kifayah, dan sebagian lagi berpendapat sunnah muakad (sunnah yang dikuatkan). Pendapat yang terakhir ini dipandang sebagai pendapat yang paling kuat, kecuali dalam sholat jum’at.
Bagi laki-laki, shalat berjamaah lima waktu di masjid lebih baik daripada shalat berjamaah di rumah, kecuali shalat sunnah, maka di rumah lebih baik.
Sabda Rasulullah SAW:
صَلُّوْا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَوةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوْبَةَ (رواه البخارى مسلم)
Artinya:
“hai manusia, shalatlah kamu di rumah kamu masing-masing. Sesungguhnya sebaik-baik shalat ialah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat lima waktu (maka di masjid lebih baik).” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Bagi kaum wanita, shalat dirumah lebih baik. Namun dibolehkan bagi mereka pergi kemasjid untuk mengikuti shalat bejamaah, dengan syarat harus menjauhi segala sesuatu yang menimbulkan syahwat atau fitnah, seperti memakai wangian atau perhiasan. Sabda Rasulullah SAW:
لَا تَمْنَعُوْا نِسَاءَ كُمْ الْمَسْجِدَ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَّهُنَّ (رواه ابو داود)
Artinya:
“Janganlah kamu larang perempuan-perempuan pergi ke masjid, walaupun rumah mereka (perempuan) lebih baik dari mereka buat beribadat“. (H.R. Abu Daud).
لَا تَمْنَعُوا اِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَلْيَخْرُ جْنَ ثَقِلاَتٍ
Artinya:
“Janganlah kamu larang perempuan-perempuan pergi ke masjid-masjid Allah, tetapi hendaklah mereka itu keluar tanpa memakai harum-haruman.” (H.R. Ahmad dan Abu Daud).
Shalat berjamaah banyak sekali keutamaannya, selain mempererat persaudaraan diantara sesama umat Islam dan dapat menambah syi’ar Islam, juga shalat berjamaah itu mempunyai derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan shalat sendirian.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ عَلَى صَلاَةِ الْفَدِّ بِسَبْعٍ وَعِسْرِيْنَ دَرَجَةً
Artinya:                                                                                                             
“dari Ibnu Umar, Rosulullah SAW, bersabda: shalat berjamaah itu melebihi shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
  1. Syarat Menjadi Imam
  2. Imam hendaklah lebih fasih bacaannya.
Sabda rasulullah SAW:
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانُوْا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُ مَّهُمْ اَحَدُهُمْ اَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ اَقْرَؤُهُمْ (رواه مسلم)

Artinya:                                                                    
“Dari Abu Sa’id ra., rasulullah SAW. Bersabda “jika mereka bertiga hendaklah salah seorang diantara mereka dijadikan imam, dan yang paling berhak (patut) di antara mereka imam adalah yang paling fasih bacaannya”. (H.R. muslim).
  1. Laki-laki boleh jadi imam untuk laki-laki, perempuan dan banci.
  2. Perempuan tidak boleh dijadikan imam untuk laki-laik. Artinya, laki-laki tidak boleh bermakmum jika imamnya perempuan. Sabda Rasulullah artinya: “perempuan janganlah dijadikan imam sedangkan makmumnya laki-laki.” (H.R. Ibnu Majah).
Adapun perempuan menjadi imam untuk perempuan, hal itu dijadikan imam.
  1. Orang dewasa boleh menjadi imam untuk anak-anak yang mumayiz (hampir dewasa) dan sebaliknya.
  2. Orang yang merdeka boleh menjadi imam untuk hamba sahaya, dan sebaliknya.
  3. Banci tidak boleh menjadi imam untuk laki-laki.
  4. Perempuan tidak boleh menjadi imam untuk banci.
  5. Orang yang sedang bermakmum kepada orang lain tidak boleh dijadikan imam.
  6. Orang yang diketahui bahwa shalatnya tidak sah (batal) seperti berhadats atau bernajis tidak boleh dijadikan imam.
  7. Imam hendaklah jangan mengikuti orang lain. Maksudnya, imam itu berpendirian, tidaj berpengaruh oleh orang lain. Jika demikian berarti ia sebagai makmum, bukan sebagai imam.
  8. Syarat Menjadi Makmum
  9. Makmum hendaklah berniat mengikuti imam. Adapun imam tidak disyaratkan berniat menjadi imam hal itu hanyalah sunnat agar ia mendapat ganjaran berjamaah.
Sabdah Rasulullah SAW:
اِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِاالنِّيَاتِ (رواه البخارى)
Artinya: “sesungguhnya segala amal itu hendaklah dengan niat.” (H.R. Bukhari).
  1. Makmum hendaklah mengikuti imam dalam segala perbuatannya.
Sabda Rasulullah SAW:
اِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَاِذَا رَكَعَ فَارْ كَعُوْا (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
“Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai pemimpin supaya diikuti perbuatannya. Apabila ia telah takbir hendaklah kamu takbir, dan apabila ia telah ruku’ hendaklah kamu ruku’ pula.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
  1. Makmum hendaklah mengetahui gerak-gerik perbuatan imam. Misalnya dari berdiri ke ruku’, dan ruku’ ke i’tidal, dari i’tidal ke sujud dan seterusnya, baik dengan melihat imam sendiri, melihat shaf (barisan) yang dibelakang imam, maupun mendengar suara imam, atau suara bilalnya.
  2. Kedua (imam dan makmum) berada dalam satu tempat, umpamanya dalam satu ruangan masjid. Sebagaian ulama berpendapat bahwa shalat berjamaah di satu tempat itu bukan merupakan syarat, tetapi hanya sunnat, sebab yang perlu ialah mengetahui gerak-gerik perpindahan imam dari rukun ke rukun, atau dari rukun ke sunnat dan sebaliknya, agar makmum dapat mengikuti gerak-gerik imamnya.
  3. Tempat berdiri makmum tidak boleh lebih depan daripada imam. Yang dimaksud disini ialah lebih depan ke arah kiblat. Bagi orang yang berdiri diukur tumitnya, dan bagi orang duduk diukur pinggulnya. Adapun apabila shalat berjamaah di Masjidil Haram, hendaklah shaf mereka melengkung sekeliling Ka’bah; di lain pihak imam berhadapan dengan makmum.
  4. Susunan Shaf dalam Shalat Berjamaah
  5. Apabila makmum hanya seorang hendaklah ia berdiri di sebelah kanan imam agak ke belakang sedikit; apabila datang orang lain, hendaklah ia berdiri ia berdiri di sebelah kiri imam. Sesudah takbir, imam hendaklah maju sedikit, atau kedua orang makmum itu mundur.
عَنْ جَا بِرٍ قَالَ صَلَيْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ ص.م.: فَقُمْتُ عَن يَمِيْنِهِ ثُمَّ جَاءَ جَابِرُبْنُ صَخْرٍ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِاَيْدِيْنَا جَمِيْعًا حَتَّى اَقَامَنَ خَلْفَهُ (رواه مسلم)
Artinya:
“Dari Jabir, ia berkata: Saya telah shalat mengikuti Nabi SAW, saya berdiri di sebelah kanan beliau, kemudian datang Jabir bin Shakr berdiri sebelah beliau, maka beliau mengambil tangan kami berdua sehingga beliau dirikan di belakang beliau”. (H.R. Muslim).

  1. Apabila jama’ah itu berdiri dan beberapa shaf, terdiri dari jamaah laki-laki dewasa, anak-anak dan perempuan, hendaklah shaf diatur sebagai berikut:
    1. Di belakang imam adalah shaf anak laki-laki dewasa. Jika mereka banyak dapat dijadikan beberapa shaf.
    2. Di belakang shaf laki-laki dewasa adalah shaf anak-anak laki, dan kalau mereka banyak dapat dijadikan beberapa shaf.
    3. Di belakang shaf anak-anak laki adalah shaf perempuan dewasa, dan kalau mereka banyak dapat dijadikan beberapa shaf.
    4. Jika terdapat anak-anak perempuan, hendaklah mereka ditempatkan di belakang shaf perempuan dewasa.
Hal ini berdasarkan pengaturan yang telah ditetapkan Rasulullah SAW, sebagaimana hadits diriwayat Muslim sebagai berikut:
كَانَ النَّبِيُّ ص.م.: يَجْعَلُ الرِّجَلَ قُدَّامَ الْغِلْمَا وَالنِّسَاءِ خَلْفَ الْغِلْمَا (وراه مسلم)
Artinya:
Nabi SAW pernah mengatur shaf laki-laki dewasa di depan shaf anak-anak laki, dan shaf perempuan dewasa di belakang shaf anak-anak laki-laki (H.R. Muslim).
Selain susunannya harus demikian. Juga shaf itu hendaklah lurus dan rapat, berarti jangan bengkok atau ada renggang antara yang seorang dengan yang lain.
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَنْسٍ كَانَ النَّبِيِّ ص.م.: يَقْبِلُ عَلَيْنَ بِوَجْهِهِ قَبْلَ اَنْ يُّكَبِّرَ فَيَقُوْلُ تَوَصُّوْا وَاعْتَدِلُوْا (رواه مسلم)
Artinya:
“Dari Anas, Rasulullah SAW menghadapkan mukanya kepada kami sebelum takbir, kemudian beliau berkata: Rapatkanlah dan Luruskan barisan kamu” (H.R. Muslim).
Sabda Rasulullah SAW:
عَنْ اَبِى اَمَامَةَ قَالَ النَّبِيُّ ص.م.: سَدُّوا الْخَلَلَ فَإِنَ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ فِيْمَا بَيْنَكُمْ بِمَنْزِلَةِ الْخَذْفِ (رواه احمد)
Artinya:
“Dari Abi Amamah, Rasulullah SAW, bersabda: penuhkan jarak yang kosong diantara kamu, karena sesungguhnya setan dapat masuk diantara kamu sebagai anak kambing.” (H.R. Ahmad).


  1. Pengertian Makmum Masbuq
Yang dimaksud dengan “Masbuq” ialah orang yang datang terlambat ke tempat shalat berjamaah, sedangkan imam sudah menyelesaikan satu rakaat atau lebih, tetapi belum salam. Atau, ketika imam sedang ruku’, orang yang datang terlambat itu belum sempat membaca fatihah.
  1. Cara Shalat Makmum Masbuq
Jika ia takbiratul ihram sewaktu imam belum ruku’ hendaklah ia membaca Al Fatihah sedapat mungkin. Apabila imam ruku’ dan masbuq itu belum habis membaca Al Fatihah hendaklah ia ruku’ mengikuti imam. Atau didapatinya imam sedang ruku’ hendaklah ia ruku’ pula. Pendek kata, hendaklah ia mengikuti bagaimana keadaan imam sesudah ia takbiratul ihram. Apabila masbuq mendapati imam sebelum ruku’ atau sedang ruku’ dan masbuq itu dapat ruku’ yang sempurna bersama imam, maka ia mendapat satu rakaat; berarti shalatnya terhitung satu rakaat. Kemudian, jika ia tertinggal satu rakaat atau lebih, hendaklah kekurangannya itu di tambah sampai cukup sesuai dengan bilangan rakaat shalat yang sedang dikerjakan, dan hal ini dilakukan setelah imam memberi salam.
اِذَا جَاءَ اَحَدُ كُم الصَّلَاةَ وَنَحْنُ سُجُوْدٌ فَسْجُدُوا وَلَا تَعَدُّوْهَا شَيْئًا وَمَنْ اَدْرَكَ الرُّكُوْعَ فَقَدْ اَدْرَكَ الرَّكْعَةَ (رواه ابو داود)
Artinya:                                                                                           
“Apabila seseorang di antara kamu datang untuk shalat sewaktu kami sujud, hendaklah kamu sujud, dan janganlah kamu hitung itu satu rakaat. Dan barang siapa mendapati ruku’ beserta imam, ia telah mendapat satu rakaat.” (H.R. Abu Daud)
Adapun bacaan surat Al Fatihah makmum yang masbuq, menurut pendapat jumhur ditanggung oleh imam. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa masbuq tidak mendapat satu rakaat, kecuali apabila ia dapat baca surat Al Fatihah sebelum imam ruku’. Mereka beralasan dengan hadits berikut.
Sabda Rasulullah SAW:
مَا اَدْرَ كْتُمْ فَصَلُّوا وَمَافَا تَكُمْ فَتِمُّوْهُ (رواه البخارى و مسلم)

Artinya:
“bagaaimana keadaan imam ketika dapati, hendaklah kamu ikuti. Dan apa yang ketinggalan olehmu, hendaklah kamu sempurnakan.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
  1. Cara Mengingatkan Imam yang lupa
Cara mengingatkan imam yang salah atau lupa dua macam, sebagai berikut.
  1. Apabila imam salah bilangan rakaat atau lupa gerakan-gerakan shalat seperti lupa tidak ruku’, lupa tidak duduk di antara dua sujud, tidak i’tidal dan sebagainya, maka makmum laki-laki mengingatkannya dengan cara mengucapkan “subhanallah” dan makmum perempuan dengan cara tepuk tangan yaitu punggung telapak tangan kanan ditepukkan pada telapak tangan kiri. Jika sudah diingatkan, imam berjalan terus, maka makmum hendaknya tetap mengikuti imam, sebab mungkin imam yakin apa yang dilakukannya benar, Rasulullah SAW. Bersabda:
يُصَلُّوْنَ لَكُمْ فَإِنْ اَصَا بُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَاِنْ اَخْطَئُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ (رواه احمد و البخارى)
Artinya:
“Mereka (imam) itu shalat untuk kamu (makmum) apabila mereka benar pahalanya untuk kamu dan mereka, apabila mereka (imam) salah, pahalanya untuk kamu dan salahnya untuk mereka.” (H.R. Ahmad dan Bukhari).
  1. Apabila imam lupa atau salah dalam membaca ayat Al Quran, maka cara mengingatkannya adalah dengan meneruskan bacaan atau ayat Al Quran yang lupa atau salah tersebut. Jika imam terus saja berjalan, maka makmum hendaklah tetap mengikuti imam.
  2. Cara Menggantikan Imam yang Batal
Imam yang batal dapat digantikan oleh makmum yang tepat berada dibelakangnya. Imam dapat meminta diganti melalui isyarat.
Agar isyarat tersebut mudah dipahami, makmum yang berada di belakang imam disyariatkan orang yang paham ilmu agama. Oleh karena itu, sebaiknya makmum yang berada di belakang imam adalah orang yang siap menggantika kedudukan imam.